
Baru-baru ini saya menyadari, ternyata dalam proses seseorang memahami isi bacaan, terdapat dua pendapat yang cukup berseberangan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa tujuan membaca buku hanya terbatas pada menanamkan value tertentu saja. Sementara di sisi lain ada yang berpendapat bahwa tujuan membaca tidak hanya sekedar menanamkan value, tetapi juga meluaskan perspektif. Apalagi ketika konteksnya membicarakan buku anak. Tidak mengherankan jika kemudian timbul orang yang senang mendikotomikan jenis-jenis bacaan.
Lalu bagaimana sebaiknya kita menilai buku bacaan yang baik untuk anak, terutama dari aspek literatur? Sebelum membahas lebih lanjut, pertama kita harus memahami terlebih dahulu apa itu literatur dan bagaimana hubungannya dengan literasi.
Memahami Perbedaan Literatur dan Literasi
Secara etimologi, literatur berasal dari bahasa Latin, yaitu litterae, yang berarti “hal-hal yang dibuat dengan kata-kata”. Literatur adalah sumber atau acuan yang digunakan untuk mendapatkan informasi tertentu. Oleh karena itu, literatur dapat terdiri dari teks yang berdasarkan fakta ataupun fiksi. Dan berdasarkan tujuannya, literatur juga dapat diartikan sebagai bahan bacaan yang digunakan dalam berbagai aktivitas, baik secara intelektual maupun rekreasi.
Literatur dapat mencakup berbagai jenis karya sastra, seperti puisi, prosa, cerita pendek, novel, dan lain-lain dengan berbagai jenis genre seperti misalnya fiksi-fantasi, biografi, misteri, roman dan sejarah. Namun literatur juga bisa mencakup karya non-sastra, seperti laporan penelitian, buku teks, ensiklopedia, dan sejenisnya.
Pada konteksnya dalam buku anak atau sastra anak, literatur seringkali dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik dengan warna-warna yang mencolok sebagai salah satu penunjang utama untuk menarik minat baca anak.
Sementara literasi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memilih, memilah, menyerap, menganalisa, dan memahami informasi sesuai konteksnya dari berbagai sumber. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan membaca, menulis, dan berhitung secara komprehensif atau menyeluruh. Literasi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan atau keterampilan dalam bidang tertentu, sehingga muncul istilah-istilah yang lebih spesifik, seperti literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya, dan lain-lain.
Hubungan Literasi dan Literatur
Literasi dan literatur memiliki keterkaitan yang erat. Seseorang dengan kemampuan literasi yang baik, dapat melakukan studi literatur dengan baik. Begitupun sebaiknya, literatur yang baik dapat meningkatkan kemampuan literasi seseorang.
Sebuah buku dikatakan sebagai sumber literatur yang baik jika buku tersebut ditulis, disusun, dan diterbitkan dengan menerapkan kaidah-kaidah studi literatur yang baik.
Dari sisi pembaca, literatur yang baik dapat meluaskan perspektif pembaca. Dan jika pembaca memiliki literasi yang baik, ia dapat menarik banyak hal substansial dari buku yang dibacanya, seperti mengasah perasaan empati, menajamkan daya pikir dan imajinasi, menambah jiwa kreatifitas, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan lain-lain.
Menilai Buku Anak dari Aspek Literatur
Dewasa ini tidak sulit bagi kita untuk mengakses buku anak. Ketersediaan buku anak dapat diakses dengan mudah baik secara digital maupun secara luring di toko-toko buku terdekat dan perpustakaan. Pilihannya pun ada banyak sekali, mulai dari terbitan penerbit lokal minor, penerbit lokal mayor, hingga penerbit luar negeri.
Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa buku anak yang kita pilih menjadi sumber bacaan yang baik untuk anak kita? Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa tujuan besar dari mudahnya akses terhadap buku anak adalah untuk meningkatkan literasi sejak dini. Peningkatan literasi akan terwujud jika tujuan-tujuan dasar dalam aktivitas membaca dapat dicapai, seperti:
- Anak memiliki kesenangan pada aktivitas membaca.
- Tumbuhnya kecintaan pada buku bacaan.
- Terjalinnya bonding dengan keluarga melalui aktivitas read aloud atau membaca bersama sebagai kegiatan favorit di rumah.
Mengapa ke-3 hal tersebut menjadi tujuan dasar? Karena dari perspektif anak, sesuatu akan lebih mudah dilakukan jika hal tersebut terasa “hidup” dan menyenangkan bagi mereka. Interaksi anak dengan buku harus dibangun sehidup dan semenyenangkan mungkin. Karena itu ilustrasi menjadi faktor penting, bahkan tak jarang menjadi faktor penentu dalam buku anak. Semakin ilustrasi “hidup dan berbicara”, anak akan semakin tertarik untuk membaca. Dengan kata lain, buku anak sebagai media rekreasi harus menjadi salah satu pondasi utama agar anak suka membaca. Penulis, ilustrator, dan penerbit harus mampu memposisikan diri dan mengambil perspektif sebagai anak-anak, sehingga karya tersebut lebih mudah diterima oleh anak-anak.
Bagaimana ketika hal ini ditinjau dari aspek literatur ? Buku anak seperti apakah yang dinilai baik? Tentunya kembali ke definisi literatur dan literasi tadi, serta bagaimana keduanya dapat saling mendukung satu sama lain.
Buku anak atau dalam hal ini kita sebut sebagai sastra anak, memiliki tujuan yang lebih besar dari ketiga tujuan dasar tadi, yaitu untuk meluaskan perspektif. Bagaimana kita tahu bahwa buku tersebut mampu meluaskan perspektif? Ketika dari bacaan tersebut, anak dapat memperoleh pengalaman-pengalaman berikut:
- Meningkatnya daya imajinasi, yang didukung oleh faktor ilustrasi tadi.
- Terjadinya diskusi dua arah dan interaktif untuk membahas isi buku.
- Mempertajam daya nalar dan meningkatnya kemampuan untuk berpikir kritis.
- Terpeliharanya rasa ingin tahu.
- Meningkatnya daya kreatifitas.
- Terasahnya perasaan empati.
- dan lain-lain.
Buku-buku seperti ini biasanya ditandai tokoh-tokoh utama yang mengalami perkembangan karakter dalam ceritanya, serta tidak hanya bersifat hitam putih. Karakter tokoh tidak hanya digambarkan sebagai seorang antagonis atau protagonis semata, namun dibangun melalui latar dan plot cerita yang kuat.
Dengan mengalami pengalaman-pengalaman tersebut secara mandiri, anak akan mampu memetik value yang substansial dari buku bacaannya. Tanpa “ditanamkan secara paksa”, value tersebut akan tumbuh dan terbentuk secara alami karena ada proses olah pikir, olah rasa, dan kontemplasi panjang yang terbangun selama aktivitas membaca. Dengan demikian, value yang diperoleh setiap pembaca biasanya akan berbeda-beda, karena pengalaman membaca setiap anak juga berbeda.
Bagaimana agar anak tidak keliru memaknai value dari buku yang dibacanya? Di sinilah keluarga dan komunitas berperan penting, terutama orang tua sebagai pendamping utama. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mengantarkan mereka agar anak-anak mampu meraih, membuka, dan memandang dunia dengan perspektif yang luas, dan itu dimulai dari mengenalkan buku kepada mereka dengan cara yang menyenangkan.

Daftar Pustaka
https://www.thoughtco.com/what-is-literature-740531
chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/2012-2-01685-DS%20Bab1001.pdf






