• Pekan lalu, saya berkesempatan untuk memandu acara English Read Aloud yang digagas oleh komunitas RAY (Read Aloud Yuk!) pada hari Minggu, tanggal 16 Februari 2025. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Perpustakaan Jakarta Cikini yang didukung oleh Kedutaan Besar Australia.

    Mengutip slogan Trigatra Bangun Bahasa,
    “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing,” Read Aloud Yuk dan Perpustakaan Jakarta Cikini berhasil menyelengarakan kegiatan ini dengan lancar.

    Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan adalah read aloud dan bookish play yang diambil dari buku bertema feelings dengan judul “How Do I Feel” yang diterbitkan oleh penerbit DK.

    Menjadi kesempatan belajar dan pengalaman yang berharga bagi saya karena ini pertama kalinya saya berperan sebagai MC dalam sebuah acara, setelah sebelumnya lebih banyak bekerja di belakang layar. Dan menjadi lebih menantang lagi karena audience-nya anak-anak dan saya diminta menggunakan bahasa Inggris.

    Saya jadi tertantang untuk bersikap lebih luwes, super ceria, dan interaktif di hadapan anak-anak. Di depan mereka, saya tidak boleh bersikap jaim (jaga image), berusaha melepas atribut saya sebagai orang dewasa dan harus bisa membaur dengan anak-anak senatural mungkin. Memandu dengan bahasa yang sederhana, intonasi yang menarik, dan menari bersama anak-anak ternyata cukup challenging jika belum terbiasa. Apalagi ini menjadi pengalaman pertama bagi saya.

    Beruntung sekali, teman-teman satu komunitas yang sama-sama bertugas bersikap sangat supportif. Saya didukung penuh untuk berani tampil meski dengan skill public speaking dan bahasa Inggris yang terbilang masih sangat pas-pasan.

    Over all, kegiatan berlangsung dengan lancar dan meninggalkan kesan yang baik bagi anak-anak dan para orang tua. Rencananya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan yang rutin dilakukan oleh komunitas RAY agar semakin banyak orang tua yang tertarik untuk sama-sama belajar dan berjuang meningkatkan literasi anak sejak dini.

    Terima kasih RAY, atas pengalamannya yang sangat berharga. Semoga dengan ini dapat memacu diri untuk lebih semangat dalam berkontribusi dan mengambil setiap kesempatan belajar. Karena sejatinya, anak dan orang tua pun sama-sama belajar dan bertumbuh.

    Salam literasi.

  • Siapa yang tidak mengenal Raditya Dika, seorang penulis dan stand up comedian yang memulai karirnya di dunia kepenulisan dari aktivitas blogging. Kali ini, Raditya Dika muncul kembali dengan karya terbarunya yang berjudul Timun Jelita, sebuah novel fiksi pertama yang ditulisnya setelah vakum meluncurkan buku selama 8 tahun. Menariknya dalam karya terbarunya ini, Radit (panggilan akrab penulis) tidak hanya menghasilkan sebuah buku, tetapi juga meluncurkan 4 buah single yang juga menjadi judul bab dalam bukunya, yaitu lagu Jika Bersamamu, Juga Berdua, Sadar Sendiri, dan Bukan Orang Pintar.

    Blurb Novel Timun Jelita

    Timun, adalah seorang akuntan freelance yang ingin bermusik setelah ayahnya wafat dan meninggalkan sebuah gitar tua. Timun kesulitan mendapatkan teman band karena usianya sudah tidak muda lagi. Untung ada Jelita. Sepupunya ini adalah mahasiswi yang pernah dikecewakan oleh teman-teman band-nya yang lama. Mereka pun sepakat membuat duo musik, dengan dibantu oleh Robert, teman Jelita yang berperan menjadi manajer band mereka.

    Dalam 8 bab novel ini kita akan mengikuti cerita tentang suka duka bermusik di zaman sekarang, tentang jujur dalam berkarya, dan tentang umur bukanlah halangan untuk membangkitkan kembali passion yang lama terkubur.

    Karakter Putri sebagai Support System Utama bagi Timun

    Meskipun tokoh utama dalam novel ini adalah Timun dan Jelita, menurut saya tokoh Putri juga menjadi tokoh pendukung yang berperan besar. Putri adalah istri Timun. Tokoh Putri digambarkan sebagai sosok istri yang sangat supportif bagi Timun. Saat Timun menyatakan keinginannya untuk bermusik di usia yang tidak lagi muda, tanpa banyak menuntut Putri mendukung keinginan suaminya tersebut. Ia merupakan sosok istri yang penuh perhatian, penyayang, dan lembut. Ia juga menjadi pendengar setia bagi setiap keluh kesah Timun ketika mengalami kesulitan di tengah upayanya untuk bermusik.

    Dengan kata lain, Radit berhasil menggambarkan tokoh Putri sebagai pasangan yang supportif bagi Timun dalam perjalanannya untuk menggapai mimpi. Seolah ia ingin menekankan bahwa sangat penting bagi kita untuk memiliki pasangan yang supportif dalam meraih mimpi.

    5 Tips Menjadi Istri yang Supportif ala Putri dalam Novel Timun Jelita

    Berkaca dari tokoh Putri dalam novel Timun Jelita, sebagai seorang istri kita dapat memaksimalkan peran sebagai partner hidup dari pasangan kita dengan bersikap supportif. Bagaimana caranya?

    1. Bersikap attentive dan menjadi pendengar yang baik. Dari bab awal hingga bab terakhir novel ini, peran Putri sebagai seorang istri yang supportif terasa sangat menonjol. Karakter Timun yang introver dan pendiam dilengkapi dengan karakter Putri yang kalem dan lemah lembut. Ia peka dengan kondisi Timun ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya, dan di saat itulah dengan tekun Putri menjadi pendengar yang setia dan penuh perhatian bagi suaminya. Ia tidak menyela saat suaminya berbicara, dan memberi saran dengan lembut ketika diperlukan.
    2. Berkomunikasi secara asertif. Tidak hanya menjadi pendengar yang baik, Putri juga dapat berkomunikasi secara asertif dengan Timun. Ia berkata dengan lugas dan jujur saat dimintai pendapat oleh suaminya, namun di sisi lain ia juga tetap berusaha untuk menghargai pendapat dan perasaan suaminya. Dengan cara tersebut, Putri menjadi sosok istri yang sangat berperan bagi kemajuan Timun dalam meraih mimpinya.
    3. Memberi afirmasi positif dan dukungan ketika pasangan merasa ragu, sedih, dan putus asa. Dalam beberapa bab, diceritakan Timun beberapa kali mengalami keraguan dalam keputusannya. Bahkan Timun juga sempat hampir menyerah karena merasa impiannya untuk bermusik terasa terlalu konyol dan muluk-muluk. Namun Putri dengan perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang istri, tetap memberi semangat dan dukungan penuh bagi Timun. Bahkan ia juga merelakan tabungan untuk program bayi tabung mereka agar digunakan terlebih dahulu demi keperluan Timun saat berusaha mempromosikan musiknya.
    4. Berusaha terlibat dalam “dunia” pasangan, meski memiliki minat yang berbeda. Meskipun hidup bersama sebagai pasangan suami istri, secara individu Timun dan Putri memiliki minat yang berbeda. Timun sedikit mengerti tentang musik karena pernah tergabung dalam sebuah band saat ia bersekolah. Sementara Putri tidak mengerti sama sekali tentang bermusik. Namun, Putri tetap berusaha masuk ke dalam dunia Timun. Dalam proses Timun mewujudkan mimpinya untuk bermusik, Putri bersikap supportif dengan menjadi pendengar pertama bagi karya-karya Timun dan memberinya apresiasi positif.
    5. Menjadi garda terdepan saat ada yang merendahkan dan meremehkan pasangan. Dalam satu bab diceritakan bahwa Putri berani memutus pertemanan dengan salah satu teman sekolahnya dulu karena temannya tersebut tampak meremehkan Timun. Temannya tersebut menganggap bahwa usaha Timun untuk bermusik di usia 40 adalah hal yang tidak perlu dilakukan. Atas perkataan temannya tersebut, tanpa ragu Putri memutuskan hubungan dengan temannya tersebut karena ia percaya, bahwa tidak ada batasan usia untuk meraih mimpi, seperti halnya yang dilakukan oleh Timun.

    Last bu not least, ada satu quote Raditya Dika yang saya ingat sekali saat proses peluncuran novel Timun Jelita.

    Kadang kalau kita punya mimpi, kita butuh orang yang mendukung mimpi kita. Dan banyak mimpi yang patah karena salah cerita ke orang – Raditya Dika.

    Nah, bagaimana dengan ibu? Apakah sudah siap menjadi istri yang supportif bagi pasangannya seperti tokoh Putri?

  • “Jadi ibu itu harus serba tahu dan serba bisa.”

    Pasti banyak para ibu yang familiar dengan kalimat ini. Emang jadi serba tahu dan serba bisa itu penting banget ya?

    Well, kalau menurut saya pribadi sih, penting ga penting. Loh, maksudnya bagaimana?

    Menjadi serba tahu dan serba bisa tidak penting kalau kita tidak memiliki tujuan besarnya. Alih-alih jadi kesempatan belajar, ibu malah bisa merasa overwhelmed dengan segala pergerakan dan perubahan dunia digital yang serba cepat. Ujung-ujungnya jadi merasa tertinggal dan jadi sekedar ikut-ikutan alias FOMO.

    Tapi, kalau kita memiliki alasan dan tujuan besar, hal ini malah bisa dijadikan sebagai kesempatan belajar bagi ibu. Alasan dan tujuan ini penting bagi kita agar tidak mudah merasa overwhelmed dan tidak terseret arus FOMO. Walau sebenarnya juga tidak ada salahnya kalau pun mau FOMO. Tapi biasanya hal ini tidak akan berlangsung lama, karena trend akan terus berubah. Jika kita hanya fokus mengikuti trend, tentu kita akan merasa cepat lelah, dan akhirnya malah jadi kehilangan minat belajar.

    Lalu apa pentingnya menjadi ibu serba tahu dan serba bisa di zaman digital ini? Berikut ini beberapa alasan saya mengapa jadi ibu yang serba tahu dan serba bisa itu penting.

    1. Merawat semangat belajar dan curiousity. Setuju ga sih Bu, kalau merawat semangat belajar itu penting banget? Sebagai ibu, justru semangat belajar ini tidak boleh sampai berhenti. Selain agar otak kita terus terstimulasi untuk belajar hal-hal baru, tentu kita juga ingin menjadi teladan bagi anak kita. Kita bisa memanfaatkan kemudahan teknologi sebagai media untuk belajar. Kalau belum siap berkomitmen untuk mengikuti kelas berbayar, kita bisa mulai dari hal yang paling mudah dan bisa dilakukan dengan santai dan secara gratis, misalnya dengan mendengarkan podcast atau rekaman-rekaman kuliah umum yang dapat diakses dengan mudah di kanal-kanal youtube. Dengan menunjukkan semangat belajar dan curiousity pada hal-hal baru, secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk menumbuhkan dan merawat minat belajar mereka karena melihat kita sebagai teladan.
    2. Tanamkan bahwa belajar itu adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Sebagian besar dari kita terjebak dengan mindset bahwa belajar itu harus duduk di bangku sekolah formal. Padahal, definisi belajar itu luas sekali dan bisa menggunakan berbagai media. Misalnya membaca buku dan membuat intisari bacaan, menyimak podcast-podcast tertentu di sela-sela kegiatan sehari-hari, ataupun sesederhana mencoba hal-hal baru seperti mencoba resep masakan baru, merutinkan olahraga yang selama ini hanya menjadi wacana, bercocok tanam, atau belajar mengoperasikan aplikasi-aplikasi pembuat konten dan design seperti Capcut, Canva, dan Adobe. Hal baru yang tampak mudah dilakukan, tapi percayalah, tidak semua orang bisa dan mau.
    3. Belajar membaca arah trend. Menurut saya, kemampuan membaca arah trend juga menjadi hal penting bagi ibu. Mengapa? Karena ibu perlu menyesuaikan pendidikan anak sesuai zamannya. Kurikulum zaman kita bersekolah dulu jauh berbeda dengan kurikulum di zaman anak kita sekarang. Pekerjaan-pekerjaan dan profesi yang dulu selalu jadi andalan dan top priority orang tua di zaman dulu juga sudah tidak relevan di zaman sekarang. Dengan mengetahui trend dari masa ke masa, minimal kita jadi punya gambaran ke depan, tentang hal-hal apa saja yang akan dihadapi oleh anak kita di kemudian hari. Kita pun menjadi lebih siap untuk mempersiapkan masa depan yang terbaik bagi anak-anak kita.
    4. Filtrasi terhadap konten-konten yang tidak bijak. Masih berkaitan dengan kepentingan anak, menurut saya penting bagi ibu untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang sedang trend di kalangan anak-anak muda saat ini. Pertama, agar bisa nyambung saat berbicara dengan anak saat sudah remaja nanti. Kedua, sebagai filter terhadap konten-konten tidak baik yang bisa jadi akan ditiru oleh anak kita. Sebagai orang tua, konten-konten yang viral dan meresahkan sudah selayaknya menjadi titik kewaspadaan kita, agar kelak anak kita tidak sampai terbawa arus negatif akibat pengaruh yang tidak baik dari dunia digital.
    5. Meng-upgrade diri dengan growth mindset. Ibu-ibu boleh bahas politik? Boleh. Ibu-ibu boleh mengkritisi kebijakan pemerintah? Boleh banget. Ibu-ibu boleh ikut berdiskusi dengan topik-topik yang berat? Boleh dan bisa banget! Selama kita berupaya untuk meng-upgrade diri, ibu bisa terlibat dengan pembicaraan apapun. Bagaimana caranya kita bisa nyambung saat berdiskudi topik-tpoki berat, ya caranya dengan belajar. Belajar mencari berita yang kredibel, belajar membaca data dan hasil analisis dari suatu topik, dan belajar membedakan mana berita hoax, mana fakta. Tujuannya tentu saja, agar pada saat ngobrol dan mengemukakan pendapat kita tidak asbun. Mengobrol dengan pasangan pun akan tetap nyambung meski dengan topik yang berbeda-beda, karena dengan terus meng-upgrade diri, wawasan dan kecakapan ibu akan terus bertambah. Bonding dengan pasangan pun secara kualitas akan meningkat.
    6. Bersiap menghadapi berbagai pertanyaan ajaib dari anak. Jangan lupakan bahwa seiring pertumbuhan anak-anak kita, pertanyaan mereka juga akan semakin kritis. Semakin ibu bisa menjawab dan menjelaskan pertanyaan anak, diskusi dua arah akan semakin terbuka, dan komunikasi yang sehat dengan anak akan semakin terbangun. Hubungan dengan anak pun akan semakin erat karena kita bisa menjadi teman ngobrol yang asyik.

    Nah, kalau sudah tahu tujuan besarnya, tidak ada salahnya kan jadi ibu yang serba tahu dan serba bisa? Semoga dengan bertambahnya peran sebagai ibu, tidak menghentikan diri kita untuk terus belajar ya!

Design a site like this with WordPress.com
Get started