• Tak dipungkiri, bermain media sosial memang terasa menyenangkan. Saking menyenangkannya, banyak orang kesulitan untuk mengontrol waktunya sendiri saat berselancar di media sosial. Awalnya hanya ingin melihat sekilas, tau-tau jadi doom scrolling hingga 2 jam. Waktu yang tadinya bisa digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat produktif jadi terbuang sia-sia.

    Apalagi ketika algoritma sudah berbicara. Apa yang sering kita lihat di media sosial, postingan apa yang sering kita sukai, akan menampilkan algoritma yang sesuai dengan preferensi tersebut. Hal ini tanpa sadar dapat membuat kita terjebak dalam filter bubble media sosial.

    Dampak dari terjebak filter bubble media sosial ini antara lain terjadinya polarisasi opini, sulitnya melakukan diskusi terbuka, risiko berkembangnya hoaks atau berita palsu, kurangnya pemahaman untuk menguasai suatu konteks permasalahan, dan keengganan untuk menerima sudut pandang yang berbeda.

    Bukankah sudah sering kita melihat fenomena ini di berbagai paltform media sosial?

    Dimana pendapat perseorangan yang bersifat subjektif lebih dipercaya daripada pendapat para ahli yang jelas-jelas didasarkan pada data dan fakta.

    Dimana standar kehidupan mewah selebritas dan influencer dijadikan standar kesuksesan dan kemapanan dalam hidup.

    Dimana quotes-quotes kehidupan yang “seolah” bijak diyakini sebagai panduan dalam menjalani hidup alih-alih bersandar pada kitab suci.

    Maka, sudah sewajarnya kita membatasi penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam filter bubble tersebut. Algoritma diciptakan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah. Jadi, pastikan kita yang mengontrol algoritma tersebut, bukan malah membiarkan hidup kita dikontrol oleh algoritma. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

    Jadi,sudahkah kita bermedia sosial dengan bijak hari ini?

  • Mengawali aktivitas awal tahun dengan konseling ke psikolog, kenapa tidak? Kesempatan ini saya dapatkan secara gratis saat saya mengajukan sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan regulasi emosi. Talkshow yang bertajuk “Mengatasi Parental Burnout” tersebut, diadakan oleh Ibu Punya Mimpi dan berlangsung di Instagram Live. Searasa kejatuhan durian runtuh, ternyata pertanyaan saya terpilih sebagai salah satu pertanyaan terbaik sehingga berkesempatan untuk menjalani konseling dengan psikolog dari Klinik Ruang Tumbuh secara gratis. Tentu saja kesempatan baik ini tidak saya lewatkan.

    Walaupun tidak sedang mengalami parental burnout, ternyata sesekali melakukan konseling dengan pihak profesional untuk mengetahui kondisi emotional statement kita juga penting lho. Apalagi untuk para orang tua yang memang rentan terkena parental burnout akibat pengasuhan sehari-hari dengan dengan anak. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, mengasuh anak itu memerlukan energi yag tidak sedikit. Pada kasus orang tua yang mengalami kelelahan secara mental dan psikis, dapat berujung pada penyakit mental yang lebih berat seperti depresi.

    Nah, di sesi konseling ini, selain sharing tentang hal-hal personal, saya juga mendapatkan tips tentang waktu-waktu yang sebaiknya dimiliki oleh setiap individu agar para orang tua agar terhindar dari parental burnout dan sehat secara mental. Apa saja?

    1. Me time. Istilah yang semakin sering digunakan oleh kalangan Gen Z ini merupakan momen di mana seseorang menikmati waktunya sendiri. Menurut Oxford Dictionary, me time adalah situasi ketika seseorang yang biasanya sangat sibuk menghabiskan waktu untuk bersantai dan melakukan sesuatu yang ia gemari. Seperti yang sudah sempat saya bahas sebelumnya, bahwa baik bagi ibu maupun ayah sangat baik untuk memiliki hobi. Hubungannya ya untuk me time tadi. Selain bisa merilis stress, dengan kita menyempatkan waktu untuk me time, hal tersebut adalah salah satu bentuk self care atau self love yang dapat dilakukan dengan mudah. Tidak harus mahal. Bahkan minum kopi atau teh hangat dengan tenang sebelum memulai aktivitas pun bisa menjadi sebuah me time yang mewah bagi orang tua yang kesehariannya disibukkan dengan pengasuhan.
    2. We time, merupakan waktu yang kita luangkan untuk bonding bersama dengan pasangan, tanpa kehadiran anak. Dalam hal ini, ayah dan ibu perlu bekerja sama untuk menciptakan we time agar bisa reconnecting satu sama lain sebagai sebuah pasangan. Menjadi orang tua tidak berarti kita mengesampingkan peran dan aktivitas sebagai sebuah pasangan. Justru menjadi lebih besar upaya kita untuk merawat hal-hal tersebut agar koneksi dengan pasangan tidak redup. Rencanakan we time dengan pasangan dan lakukan hal-hal yang disukai bersama untuk mengisi tangki cinta satu sama lain. Tidak mesti pergi berdua ke tempat romantis. Cukup luangkan waktu untuk mengobrol dengan tenang agar bisa terkoneksi kembali satu sama lain. Koneksi yang terawat dan terjalin baik dengan pasangan akan menumbuhkan hubungan yang solid sehingga pasangan akan bisa menjadi orang tua yang kompak dan sehat mental di kemudian hari.
    3. Social time. Selain me time dan we time, orang tua juga harus memiliki social time. Mengapa penting? Karena ada kalanya sebuah pasangan memiliki minat yang berbeda atau bahkan bertolak belakang satu sama lain. Social time bisa menjadi jalan bagi orang tua, baik ibu maupun ayah untuk mengembangkan dirinya secara personal. Sejatinya, setiap individu adalah makhluk sosial. Maka penting bagi orang tua untuk bersosialisasi, baik dengan teman lama, tetangga sekitar, maupun teman komunitas. Temukan komunitas atau sirkel pertemanan yang tepat, dan bergaul dengan teman-teman dengan minat serupa supaya kebutuhan sosial ayah dan ibu dapat terpenuhi dengan baik.

    Jadi, apakah parents sudah memiliki ketiga waktu tersebut? Jika ya, selamat! Parents sudah menjadi orang tua yang sehat mental!

  • “Mba, bagaimana sih cara menjaga produktivitas buat ibu rumah tangga tanpa bantuan helper sama sekali? Sudahlah kondisinya jauh dari keluarga besar, sehari-hari juga LDM dengan suami?”

    Kira-kira pertanyaan itu lah yang sering saya dapatkan ketika berinteraksi dengan teman sesama ibu

    Sesungguhnya, saya tidak memiliki tips maupun cara yang khusus. Yang saya lakukan hanyalah berdamai dan beradaptasi dengan kondisi saat ini. Bagi saya, tidak ada kondisi keluarga dan rumah tangga yang benar-benar ideal. Bahkan di balik kehidupan seseorang yang tampak ideal pun pasti di baliknya ada berbagai ujian dan tantangan yang dihadapinya tanpa kita tahu.

    Daripada fokus pada tantangan yang sudah pasti ada (dan tentunya berbeda-beda bagi bagi setiap keluarga), lebih baik kita fokus terhadap hal apa yang bisa kita lakukan. Berikut ini saya coba bagikan hal-hal yang saya laukan secara rutin untuk menjaga produktivitas sehari-hari.

    1. Buat to do list dan lakukan time blocking di waktu-waktu tertentu. Biasanya hal ini saya lakukan secara rutin sekalian dengan aktivitas journaling. To do list akan membantu hal-hal yang terasa menumpuk di kepala menjadi lebih jelas dan terurai satu per satu. Sementara time blocking saya terapkan ketika ingin fokus mengerjakan sesuatu di luar pekerjaan domestik dan urusan anak, contohnya seperti aktivitas blogging ini.
    2. Mencatat agenda-agenda penting di kalender sebagai reminder. Siapa bilang mencatat agenda di kalender hanya dilakukan oleh orang-orang kantoran? Justru bagi ibu rumah tangga yang isi kepalanya selalu penuh dengan berbagai kesibukan yang random, menuliskan hal-hal penting di kalender justru sangat membantu agar isi kepala ibu lebih rapi dan teratur. Ibarat file-file di komputer yang tadinya tersebar berantakan, kita kelompokkan file-file tersebut berdasarkan kategori tertentu dan kita simpan sebagai arsip sehingga lebih rapi dan lebih mudah diakses saat kita memerlukannya.
    3. Energy management alih-alih hanya fokus pada time management. Apakah semua orang memiliki waktu 24 jam dalam sehari? Ya. Namun apakah setiap orang memiliki energi yang sama? Jawabannya tidak. Dan ketika menyadari bahwa energi kita terbatas, kita bisa mendelegasikan sebagian urusan domestik kepada orang lain. Tidak perlu merasa bersalah dan terus memaksakan diri saat kita merasa kewalahan dengan pekerjaan rumah. Ingat, tidak ada super mom, yang ada adalah supported mom. Ada ibu yang tidak memasak dan lebih memesan catering karena fokus bermain bersama anak dan mengutamakan kerapihan dan kebersihan rumah. Ada ibu yang fokus terhadap anak dan menyediakan masakan home made setiap hari di rumah, namun rumah agak sedikit berantakan. Ada juga ibu yang fokus mengurus urusan domestik, namun mendelegasikan urusan anak ke daycare. Dan menurut saya, itu tidak apa-apa. Justru dengan menyadari bahwa energi ini terbatas, ibu akan lebih mawas diri dan bijak dalam menghadapi kesehariannya.
    4. Menghidupkan hobi lama dan eksplor hal-hal baru. Aktivitas ini bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh ibu. Ada banyak hobi yang bisa ibu coba supaya lebih produktif meskipun di rumah saja. Misalnya membaca buku, menulis blog, baking, mengikuti kelas-kelas singkat atau program-program self development, berkomunitas di lingkungan sekitar tempat tinggal, crafting, melukis, atau mungkin bermain puzzle. Kalau laki-laki masih punya aktivitas bermain hingga ada sebutan boys will be boys, kenapa tidak dengan ibu? Ibu pun bisa menjadikan hobi dan aktivitas bermain yang disukai menjadi sebuah produktivitas.
    5. Detoks media sosial secara berkala. Salah satu tantangan di jaman digital adalah paparan yang tinggi terhadap media sosial. Tanpa terasa, aktivitas doom scrolling seringkali mendistraksi keseharian kita menjadi kurang bermakna. Niatnya mau mengerjakan hal yang bermanfaat, eh ketika buka HP malah scrolling video reels atau tiktok. Tau-tau 2 jam habis hanya untuk doom scrolling. Tidak heran sampai muncul istilah brain rot karena dampak dari paparan media sosial ini tidak main-main. Dampak psikologis yang kian sering muncul biasanya berupa insecurity, anxiety, dan bahkan inferiority karena merasa standar hidup kita tidak sesuai dengan standar hidup yang dibentuk oleh algoritma media sosial. Karena itu, penting bagi kita untuk detoks media sosial secara berkala, dan pasang fitur time limitation untuk mencegah kita dari paparan media sosial dengan intensitas yang tinggi.

    Bagaimana menurutmu? Apakah tulisan ini bermanfaat? Share di kolom kometar ya!

Design a site like this with WordPress.com
Get started