Tak dipungkiri, bermain media sosial memang terasa menyenangkan. Saking menyenangkannya, banyak orang kesulitan untuk mengontrol waktunya sendiri saat berselancar di media sosial. Awalnya hanya ingin melihat sekilas, tau-tau jadi doom scrolling hingga 2 jam. Waktu yang tadinya bisa digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat produktif jadi terbuang sia-sia.
Apalagi ketika algoritma sudah berbicara. Apa yang sering kita lihat di media sosial, postingan apa yang sering kita sukai, akan menampilkan algoritma yang sesuai dengan preferensi tersebut. Hal ini tanpa sadar dapat membuat kita terjebak dalam filter bubble media sosial.
Dampak dari terjebak filter bubble media sosial ini antara lain terjadinya polarisasi opini, sulitnya melakukan diskusi terbuka, risiko berkembangnya hoaks atau berita palsu, kurangnya pemahaman untuk menguasai suatu konteks permasalahan, dan keengganan untuk menerima sudut pandang yang berbeda.
Bukankah sudah sering kita melihat fenomena ini di berbagai paltform media sosial?
Dimana pendapat perseorangan yang bersifat subjektif lebih dipercaya daripada pendapat para ahli yang jelas-jelas didasarkan pada data dan fakta.
Dimana standar kehidupan mewah selebritas dan influencer dijadikan standar kesuksesan dan kemapanan dalam hidup.
Dimana quotes-quotes kehidupan yang “seolah” bijak diyakini sebagai panduan dalam menjalani hidup alih-alih bersandar pada kitab suci.
Maka, sudah sewajarnya kita membatasi penggunaan media sosial agar tidak terjebak dalam filter bubble tersebut. Algoritma diciptakan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah. Jadi, pastikan kita yang mengontrol algoritma tersebut, bukan malah membiarkan hidup kita dikontrol oleh algoritma. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Jadi,sudahkah kita bermedia sosial dengan bijak hari ini?



