• Tidak terasa 4 hari telah berlalu semenjak tahun berganti. Jika melihat kilas balik 2024, rasanya ada banyak hal yang terjadi secara siginifikan dalam diri. Meskipun begitu, saya tidak ingin terjebak dengan ‘ilusi’ bahwa apa yang sudah saya lakukan di 2024 cukup berhenti sampai di sini saja. Improvement di tahun 2025 tentunya harus tetap berlanjut, walaupun benang merahnya masih tetap sama dengan tahun sebelumnya. Saya ingin serius dan konsisten menulis! Entah ujungnya akan sampai mana, yang pasti saya akan terus berproses dan tidak akan pernah berhenti belajar.

    Namun ada satu hal yang ingin saya garis bawahi atas perubahan signifikan di tahun 2024 kemarin. Tentang sebuah komunitas yang telah menjadi guide bagi saya untuk menentukan arah setelah cukup lama merasa terombang-ambing dalam pikiran sendiri.

    Maka dari itu, di postingan pertama tahun 2025 ini, saya ingin mendedikasikan postingan ini untuk seluruh keluarga Career Class. Mungkin lebih tepat jika postingan ini menjadi penutup tahun 2024, namun saya ingin mencatat perjalanan di Career Class ini sebagai jembatan bagi saya untuk terus bertumbuh dan berkembang sebagai seorang individu dengan bermacam-macam peran. Tanpa saya sadari, jembatan ini yang telah mengantar saya ke banyak pintu dan akhirnya bisa lebih percaya diri untuk bertemu dengan berbagai kesempatan untuk beraktualisasi diri.

    Bersama dengan seluruh keluarga Career Class yang lain, saya “dipaksa” untuk learn, unlearn, dan relearn tentang banyak hal. Preferensi hidup yang terbatas karena sirkel yang terbatas pun lama-lama semakin meluas, karena saya berkenalan dengan banyak orang dari lintas generasi dengan berbagai background. Belajar bagaimanan caranya merawat relasi, bukan hanya sebatas memperbanyak saja. Dan terlebih lagi, bagaimana mamacu diri ini agar bisa terus berkembang dengan growth mindset sampai ke hal-hal terkecil dalam hidup kita, dengan tetap mengapresiasi kemenangan-kemenangan kecil yang telah kita raih sebelumnya.

    Sebagaimana tagline Career Class,

    Oppotunites don’t happen, you create them.

  • Makna Produktivitas untuk Ibu Rumah Tangga

    Dewasa ini, produktivitas sering dihubungan dengan kemampuan seseorang untuk mendapatkan penghasilan dengan jumlah tertentu, melalui sumber daya yang dimilikinya.

    Benarkah demikian?

    Padahal menurut definisinya sendiri, produktivitas diartikan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan sumber daya yang diperlukan (input). Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah, output dari produktivitas tidak selalu hal-hal yang bersifat materi yang dapat diukur hasilnya.

    Sebagai ibu rumah tangga, saya seringkali merasa jengah ketika makna produktivitas direduksi menjadi hanya sebatas materi. Seolah ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan tidak dianggap produktif.

    Padahal, ketika di rumah ia memasak makanan dengan penuh cinta untuk keluarga, ada produktivitas yang dilakukan oleh sang ibu. Belum lagi daya kreatifitas ibu yang dituntut untuk bisa menghasilkan masakan yang variatif dengan menggunakan bahan yang sama agar anggota keluarga tidak merasa bosan terhadap menu yang itu-itu saja.

    Ketika rumah terlihat rapi dan bersih hingga ke setiap sudutnya, hal itu juga merupakan bentuk produktivitas ibu karena untuk memembersihkan rumah agar senantiasa terlihat wangi, rapi, dan tertata juga memerlukan effort. Dengan demikian, seluruh anggota keluarga akan merasa betah dan nyaman tinggal di dalam rumah.

    Ketika ibu fokus mendampingi dan membersamai tumbuh kembang anaknya, itu berarti ia juga telah menggunakan waktunya dengan produktif. Mungkin hasil produktivitasnya tidak seketika dapat diukur saat itu juga, bisa jadi hasil parentingnya baru terlihat setelah bertahun-tahun kemudian (perlu diingat bahwa parenting adalah perjalanan marathon). Namun ketika anak tersebut tumbuh aktif, sehat, ceria, dan memiliki bonding yang baik dengan kedua orang tuanya, maka itulah buah dari produktivitas sang ibu.

    Menurut saya sebagai seorang ibu rumah tangga, sangat penting bagi kita untuk memaknai ulang tentang produktivitas agar tidak mudah merasa kecil. Semua aktivitas dan upaya yang dilakukan di rumah untuk merawat keluarga adalah sebuah produktivitas.

    Produktif bagi saya adalah ketika saya mampu menuntaskan amanah dan tanggung jawab yang dimiliki sesuai dengan misi yang dituju dan peran yang dijalani saat ini, dengan sumber daya yang saya punya, dengan support system yang saya miliki.

    Jadi, hal apa saja yang membuatmu merasa bekerja dengan produktif dalam kegiatan sehari-hari?
    Share di kolom komentar ya!

    Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: image.png
  • Seringkali saya mendengar ungkapan, katanya menjadi ibu itu harus selalu terlihat kuat, tidak boleh lemah apalagi sampai lengah. Harus mandiri, serba bisa, dan berdaya. Maka tidak heran, seorang ibu dikenal dengan kelebihannya yang multitasking.

    Tapi tahukah bahwa di balik cap ‘supermom’ dan si paling ‘multitasking’ itu sebenarnya seringkali memberatkan seorang ibu? Meskipun pada kenyataannya seorang ibu memang jadi lebih multitasking dalam mengerjakan sesuatu seiring dengan bertambahnya peran yang ia lakukan. Dan biasanya, semakin beragam task yang harus dikerjakan seorang ibu dalam satu waktu, semakin sering ibu merasa burnout. Bahkan pada kasus yang lebih parah, tak jarang perasaan burnout tersebut disertai dengan perasaan kesepian, tidak berdaya, merasa tidak berharga, hingga tak jarang berujung depresi.

    Berkaca pada pengalaman pribadi, saya pernah ada di fase merasa kehilangan jati diri. Tidak lagi mengenal diri sendiri dengan baik karena seluruh fokus dan perhatian saya tujukan untuk anak dan keluarga. Ternyata, terlalu fokus mengutamakan keluarga sampai melupakan diri sendiri juga bukan hal baik. Saya jadi lupa cara mencintai diri sendiri, hingga akhirnya tangki cinta saya kosong dan malah berdampak kurang baik pada hubungan saya dengan pasangan dan anak.

    Karena itu, menurut saya sangat penting bagi ibu memiliki wadah untuk beraktualisasi diri agar dirinya juga bisa berkembang sebagai seorang individu.

    Ada banyak cara agar seorang ibu bisa beraktualisasi diri, salah satunya dengan berkomunitas. Dengan menemukan komunitas yang tepat, seorang ibu tidak hanya bisa mengembangkan potensinya, namun ia juga bisa menemukan teman sesama ibu yang sefrekensi sehingga tidak lagi merasa kesepian. Dengan aktualisasi diri, ibu juga perlahan akan mampu mengenali dirinya kembali, karena kebutuhannya untuk berkembang diwadahi oleh komunitas tersebut.

    PR-nya adalah bagaimana cara menemukan komunitas yang tepat. Tentunya ini tidak lepas dari perjalanan ibu untuk menemukan jati diri dan berkenalan kembali dengan dirinya.

    Apakah ibu suka aktivitas memasak? Maka tidak ada salahnya mengikuti kelas memasak dan komunitas kuliner.

    Apakah ibu suka menulis? Mungkin tidak ada salahnya bagi ibu untuk bergabung dengan komunitas blogger supaya lebih konsisten latihan menulis.

    Atau suka dengan pembahasan seputar literasi dan edukasi? Maka ibu dapat bergabung dengan komunitas pecinta buku yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal ibu.

    Saat ini ada banyak sekali komunitas perempuan yang tujuannya untuk saling memberi support bagi sesama ibu. Tinggal kita melihat lagi ke dalam diri dan menganalisis ulang, apa yang menjadi kesukaan kita, kebutuhan apa yang harus dipenuhi agar kita bisa berkembang, hingga akhirnya ibu dapat kembali mengasah potensi diri yang telah lama terlupakan dan kembali merasa berdaya.

    Tidak ada ibu yang sempurna, yang ada ibu yang mau terus belajar. Berikan ruang bagi ibu untuk bisa bertumbuh dan berkembang, karena ibu yang merasa penuh dengan dirinya, akan menularkan cinta yang sehat dan positif bagi keluarganya.

    Saya (yang berbaju hitam) dan teman-teman ibu di Komunitas Ibu Punya Mimpi, dalam event Happy Hour Jakarta: Berbagi Cerita dan Insporasi Comeback Ibu.

Design a site like this with WordPress.com
Get started