• Beberapa waktu lalu, saya mendengar kabar dari komunitas Read Aloud Yuk (RAY) bahwa Indonesia masuk ke dalam daftar nominasi untuk menerima Astrid Lindgren Memorial Award di tahun 2025. Wah, saya yang baru saja masuk ke dalam dunia sastra anak ini jadi ingin tahu, siapa sih Astrid Lindgren ini? Karena saya yakin di luar dunia sastra, nama ini terdengar asing di telinga. Ternyata, nama Astrid Lindgren sungguh sangat terkenal di dunia kesusatraan anak karena karyanya yang mendunia. Sebut saja di antaranya Pippi Longstocking, Madicken, Ronja Anak Perampok, dan Emil dari Lonneberga. Karya-karya yang sebenarnya terasa asing bagi saya, karena masa kecil saya dahulu lebih akrab dengan Majalah Bobo dan serial Lupus Kecil.

    Meski begitu, sebagai seorang yang antusias dengan kegiatan read aloud dan kesusastraan anak, saya jadi penasaran tentang Astrid Lindgren. Rasanya rugi sekali karena tumbuh dengan tidak mengenal karya beliau. Lalu, Astrid Lindgren Memorial Award ini apa sih?

    Biografi Singkat Astrid Lindgren

    Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita berkenalan dulu dengan Astrid Lindgren. Memiliki nama lengkap Astrid Anna Emilia Lindgren, beliau adalah seorang penulis buku anak-anak asal Smaland, Swedia dengan karya-karyanya yang terkenal antara lain:

    • Pippi Longstocking (1945);
    • Karlsson on the Roof (1955);
    • Madicken (1960);
    • Emil of Lonneberga (1963);
    • dan beberapa novel fantasi anak seperti Mio My Son (1954), The Brothers Lionheart (1973), dan Ronia the Robber’s Daughter (1981).

    Pada Januari 2017, ia dihitung sebagai penulis yang karyanya paling banyak diterbitkan dan diterjemahkan ke berbagai dunia setelah Enid Blayton, Hans Christian Andersen, dan Grimm Bersaudara. Pada tahun 1994, ia dianugerahi Right Livelihood Award untuk “kepengarangannya yang unik yang didedikasikan untuk hak anak-anak dan menghormati individualitas mereka.”

    Pippi Longstocking sebagai Karya dan Warisan Mendunia dari Astrid Lindgren

    Buku-buku karya Astrid Lindgren banyak didasarkan pada pengalaman keluarga dan kenangan masa kecilnya. Salah satu karyanya yang mendunia adalah Pippi Longstocking, buku anak-anak yang paling dicintai dan dikenal di seluruh dunia. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1945 dan sejak itu telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menjadi favorit di kalangan anak-anak dan orang dewasa.

    Diceritakan, bahwa Pippi Longstocking adalah karakter yang luar biasa dan menarik perhatian. Dia adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah yang dikepang, wajah berbintik-bintik, dan kekuatan fisik yang luar biasa. Pippi tinggal sendirian di sebuah rumah besar bernama Villa Villekulla bersama seekor kuda dan seekor monyet bernama Mr. Nilsson. Pippi adalah anak yang penuh dengan kepercayaan diri dan tidak takut menghadapi dunia dengan caranya sendiri.

    Keunikan Pippi terletak pada sifatnya yang bebas dan tidak konvensional. Dia tidak terikat oleh aturan-aturan sosial yang biasanya mengikat anak-anak seusianya. Pippi melakukan apa yang dia inginkan, kapan pun dia mau, dan ini sering kali menyebabkan kekacauan yang lucu dan menghibur. Namun, di balik semua kekonyolannya, Pippi memiliki hati yang besar dan selalu siap membantu teman-temannya.

    Salah satu aspek menarik dari karakter Pippi adalah kekuatannya yang luar biasa. Dia bisa mengangkat kuda dengan mudah dan mengalahkan orang dewasa dalam adu kekuatan. Ini bukan hanya sekadar elemen fantasi, tetapi juga simbol dari kemandirian dan kekuatan internal yang dimiliki oleh setiap anak. Pippi menunjukkan bahwa anak-anak juga bisa kuat dan mampu mengatasi tantangan mereka sendiri.

    Pengaruh dan warisan Pippi Longstocking sangat luas dan mendalam. Buku ini telah membuka jalan bagi banyak karya sastra anak-anak yang berani dan inovatif, serta telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk media. Karakter Pippi Longstocking telah menjadi ikon dan simbol dari keberanian, kemandirian, dan imajinasi tanpa batas, dan pesan-pesan yang diangkat dalam cerita ini tetap relevan dan inspiratif hingga hari ini.

    Astrid Lindgren Memorial Award

    Astrid Lindgren Memorial Award (ALMA) adalah penghargaan tahunan yang diberikan kepada individu atau prganisasi atas kontribusi luar biasa mereka dalam bidang literatur anak-anak dan remaja. Penghargaan ini didirikan oleh pemerintah Swedia pada tahun 2002 untuk menghormati penulis Astrid Lindgren dan mempromosikan literatur anak-anak di seluruh dunia.  Penghargaan ini dipilih oleh juri yang terdiri dari penulis, kritikus sastra, cendekiawan, ilustrator, dan pustakawan, dan penyerahannya dipimpin oleh Putri Mahkota Victoria dari Swedia.

    Nominasi Astrid Lindgren Memorial Award untuk tahun 2025 terdiri dari total sebanyak 265 kandidat yang terdiri dari 72 negara dan wilayah, termasuk 81 kandidat baru dari tahun-tahun sebelumnya. Daftar tersebut mencakup penulis dan ilustrator, serta pendongeng dan promotor membaca. Pemenangnya akan diumumkan pada 1 April 2025.

    Indonesia sebagai kandidat penerima Astrid Lindgren Memorial Award 2025

    Sebagai sebuah penghargaan bergengsi dalam kesusastraan anak, tentunya menjadi sebuah kabar baik dan penghormatan karena Indonesia masuk dalam daftar nominasi.

    Kandidat dari Indonesia antara lain diwakili oleh Djokolelono, seorang penulis novel yang produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul Jatuh ke Matahari yang diterbitkan Pustaka Jaya pada tahun 1976 merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia, dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi zaman dimana novel itu dibuat. Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono menulis sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976) lalu dilanjutkan dengan menulis novel berseri Penjelajah Antariksa (Gramedia 1985-1986).

    Selain menulis novel fiksi ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, salah satunya adalah seri Astrid (Gramedia, 1980-an), selain itu juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku fiksi asing, seperti Petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers, buku-buku karangan Enid Blyton, dan seri Rumah Kecil karya Laura Ingalls Wilder. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.

    Dua kandidat lainnya diraih oleh organisasi yang bergerak di bidang kesusatraan dan buku anak, yaitu Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) dan Reading Bugs Indonesia, sebuah organisasi yang memprakarsai gerakan membaca nyaring (read aloud) di Indonesia. Hingga saat ini KPBA dan Reading Bugs Indonesia telah menjadi organisasi yang berperan besar dalam menanamkan gerakan cinta buku dan gemar membaca pada anak usia dini, dalam upayanya untuk meningkatkan literasi anak di Indonesia.

    Selamat kepada Djokolelono, KPBA, dan Reading Bugs Indonesia telah masuk ke dalam daftar nominasi Astrid Lindgren Memorial Award 2025!

    Referensi:

  • Source picture from Google

    Postingan kali ini masih melanjutkan postingan sebelumnya dari buku Prophetic Parenting, yakni membahas tentang bakti kepada orangtua.

    Semenjak anak pertama saya lahir, begitu banyak teori parenting yang berseliweran di dunia maya, salah satunya membahas tentang kewajiban berbakti kepada orangtua. Banyak diantaranya yang berpendapat bahwa tidak ada kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orangtuanya. Karena pada akhirnya si anak akan memiliki kehidupan sendiri, terpisah dari orang tuanya. Bukanlah tugas seorang anak untuk menjadi sumber kebahagiaan dan tempat bergantung bagi orang tuanya, karena sejatinya orangtua haruslah melaksanakan kewajiban dan memberikan hak kepada anaknya tanpa pamrih.

    Sekilas, ulasan tersebut tampak benar dan saya pun menyetujui pendapat tersebut. Namun benarkah demikian? Benarkah bakti anak akan terlepas dari orangtuanya ketika si anak telah mampu hidup mandiri, bahagia, dan terpisah dari orangtuanya? Tentunya sebagai seorang Muslim, kita tidak bisa menelan mentah-mentah pendapat tersebut. Hendaknya semua pertanyaan, permasalahan, dan ujian yang kita jumpai dalam hidup, dikembalikan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai tuntunan hidup kita.

    Mungkin dari sisi psikologi hal tersebut bisa dianggap benar, karena pada faktanya sebagai individu, kita tidak dapat menyenangkan hati semua orang dan kita tidak bertanggung jawab atasnya. Lalu bagaimana dengan upaya kita untuk menyenangkan hati orangtua? Bukankah hal itu juga termasuk ke dalam salah satu bentuk bakti kita kepada orangtua? Beruntungnya, Islam telah menjawab pertanyaan tersebut secara lengkap.

    Perintah berbakti kepada orangtua diantaranya tersebut dalam ayat suci Al-Qur’an Surat Al-Isra (17) ayat 23-24, Al-Ankabut (29) ayat 8, dan Al-Lukman (31) ayat 14-15.

    “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    (Q.S. Al-Ankabut [29]:8).

    Banyak hadis-hadis yang menjelaskan bahwa sikap berbakti orangtua memberikan dampak yang besar kepada sikap berbakti anak. Karena itu, apabila kita ingin anak-anak kita berbakti kepada kita, maka kita dituntut untuk berbakti kepada kedua orangtua, baik saat kita masih hidup sendiri maupun saat kita sudah menikah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

    Terdapat beberapa kisah dan hadis yang diangkat dalam buku ini untuk menjelaskan tentang kewajiban dan keutamaan sikap berbakti kepada orangtua. Dalam salah satu hadis shahih, Rasulullah SAW bersabda, ” Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orangtua, dan murka Allah terletak pada murka orangtua.” Di dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk dipanjangkan usianya dan ditambahkan rezekinya, hendaknya berbakti kepada kedua orangtuanya dan menyambung tali persaudaraan.”

    Begitu utamanya kewajiban berbakti kepada orangtua, sehingga banyak anjuran Rasulullah SAW diantaranya adalah untuk senantiasa mendahulukan kewajiban berbakti kepada kepada orangtua di atas kewajiban yang lain, seperti terangkum dalam point-point berikut:

    1. Mendahulukan berbakti kepada keduan orangtua dibandingkan berjihad di jalan Allah. Hal ini disebabkan karena jihad kita untuk berbakti kepada orangtua adalah sama dengan berjihad di jalan Allah SWT.
    2. Mendahulukan berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan kepada istri dan teman-teman. Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan an-Nasa’i serta dishahihkan oleh al-Hakim dari Aisyah Ra, bahwa ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa orang yang memiliki hak paling besar terhadap seorang wanita? Beliau menjawab, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Kalau laki-laki?” Beliau menjawab, “Ibunya”. Lalu begaimana dengan perempuan? Apakah kewajibannya untuk berbakti kepada orangtuanya terputus ketika sudah menikah? Di dalam buku ini tidak mencakup penjelasan berikut, namun saya pernah menghadiri suatu kajian yang membahas tentang bakti wanita. Dijelaskan bahwa apabila seorang istri berbakti kepada suaminya, maka oleh Allah baktinya tersebut dinilai sama dengan berbakti kepada orangtuanya. Hal yang sering terjadi saat ini adalah timbulnya kecemburuan ketika suami mendahulukan orangtua, atau justru sebaliknya. Timbul kecemburuan orangtua ketika suami mendahulukan pasangannya. Hendaknya sebagai seorang istri kita dapat memahami bahwa bakti utama seorang suami adalah kepada ibunya. Dan hendaknya seorang ibu juga juga dapat memahami bahwa ketika sudah menikah, prioritas seorang suami adalah kepada istri dan anaknya. Dan alangkah indah jika seorang suami dapat menengahi dan menjembatani hubungan antara ibu dan istrinya agar terjalin hubungan yang rukun dan harmonis.
    3. Mendahulukan berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan beribadah haji, seperti yang disebutkan dalam kisah Abu Hurairah yang tidak melaksanakan ibadah haji karena mengurus ibunya sampai meninggal dunia.
    4. Mendahulukan berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan mengunjungi Rasulullah, yang disebutkan dalam kisah Uwais al-Qarni rahimahullah. Disebutkan bahwa beliau tidak bisa mengunjungi dan bertemu dengan Nabi SAW sekalipun karena ibunya sangat membutuhkan kehadirannya.
    5. Mendahulukan berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan anak-anak. Hal ini diceritakan dalam kisah tentang 3 orang pemuda yang terjebak di dalam gua. Tersebut dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dikisahkan bahwa masing-masing pemuda tersebut memohon pertolongan Allah dengan amal shaleh yang mereka miliki. Salah satu pemuda memohon pertolongan dengan amal shaleh yang dimilikinya, yaitu bahwa dia selalu menyediakan susu perah segar, dan memberikannya terlebih dahulu untuk kedua orangtuanya dibanding anak-anaknya.
    6. Mendahulukan berbakti kepada ibu dibandingkan beribadah sunnah. Hal ini tersebut dalam kisah Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya ketika beliau sedang shalat sunnah sementara sang ibu memanggilnya, sehingga sang ibu mendoakan keburukan baginya.

    Adapun sikap berbakti kepada orangtua yang dapat kita lakukan diantaranya, berbakti dalam bentuk harta; membebaskan orangtua dari perbudakan (misalnya di era sekarang adalah jerat hutang); mendo’akan orangtua; menjaga nama baik orangtua; melaksanakan nazar orangtua; dan menjauhi durhaka kepada orangtua.

    Kewajiban bakti kita kepada orangtua tidak lepas begitu saja meskipun mereka telah meninggal. Dalam hadis-hadis Nabi SAW, dijelaskan rukun-rukun yang harus dilakukan oleh seorang anak kepada orangtuanya yang telah meninggal. Diantara kewajiban-kewajiban tersebut antara lain:

    1. Melaksanakan janji dan wasiat orangtua. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Malik bin Rabi’ah as-Sa’idi Ra: Ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW, datanglah seseorang dari kabilah Bani Salamah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada bakti yang tersisa untuk kedua orangtuaku yang dapat aku lakukan setelah mereka meninggal?” Beliau menjawab, “Ya! Mendo’akan mereka, menunaikan janji mereka, menyambung tali silaturahmi yang pernah mereka lakukan, dan memuliakan teman mereka.”
    2. Berdoa dan memohon ampun untuk orangtua.
    3. Menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada sahabat orangtua.
    4. Bersedekah atas nama orangtua. Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang apabila ingin bersedekah, hendaknya bersedekah atas nama kedua orangtuanya apabila mereka berdua Muslim, sehingga kedua orangtuanya mendapatkan pahala dan dia pun mendapatkan pahala yang sama dengan pahala yang didapatkan oleh kedua orangtuanya tanpa mengurangi pahala mereka berdua sedikit pun.”
    5. Melaksanakan ibadah haji untuk orangtua. DIriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dengan sanad shahih. Zaid bin Arqam Ra berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang melaksanakan ibadah haji atas nama kedua orangtuanya, maka Allah akan menerima darinya dan dari mereka berdua. Arwah mereka akan gembira di langit, dan di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang berbakti.”
    6. Bersegera beramal shaleh untuk membahagiakan almarhum.
    7. Berziarah ke makam orangtua.
    8. Menjaga nama baik orangtua.
    9. Berpuasa atas nama orangtua.

    Semoga kita mampu menjadi anak yang berbakti kepada orangtua kita, baik semasa hidup mereka ataupun saat mereka telah tiada. Dan semoga selaku orangtua, kita mampu mendidik dan mengantarkan anak-anak kita menjadi anak yang memenuhi baktinya kepada kita.

  • Source Picture from Google

    Akhirnya, tiba juga saya di bagian kedua pembahasan dari buku ini, yaitu bagian Cara Nabi Mendidik Anak. Di bagian kedua ini ditekankan tentang betapa pentingnya orang tua menjadi suri tauadan yang baik bagi anaknya, karena seorang anak yang berada dalam masa pertumbuhan selalu memperhatikan sikap dan ucapan kedua orang tuanya, juga bertanya tentang alasan mengapa kita berlaku demikian.

    “Kemampuan seorang anak untuk mengingat dan mengerti akan segala hal sangat besar sekali. Bahkan, bisa jadi lebih besar dari yang kita kira. Sementara, sering kali kita melihat anak sebagai makhluk kecil yang tidak bisa mengerti atau mengingat.”

    Ada beberapa waktu khusus yang Rasulullah SAW contohkan untuk memberi nasihat kepada anak-anak, karena waktu-waktu tersebut dianggap sebagai waktu yang paling efektif bagi anak-anak untuk lebih mudah menerima nasihat. Waktu-waktu tersebut antara lain, ketika sedang dalam perjalanan, waktu makan, dan waktu anak sakit.

    Ketika sedang dalam perlajanan, anak sedang berada di udara terbuka sehingga jiwanya merasa lebih bebas dan ia merasa nyaman. Kesempatan ini sering digunakan oleh Rasulullah SAW untuk memberi nasihat dan pengarahan kepada anak kecil. Bahkan dalam pendidikan masa kini pun banyak di antara psikolog anak menganjurkan agar orang tua hendaknya sering mengajak anak untuk melakukan kegiatan outdoor guna menjaga kesehatan mental dan stimulasi optimal tumbuh kembangnya. Sambil kita berusaha fokus menjalin komunikasi dengan si anak agar terbentuk bonding yang kuat dengan orang tua. Ternyata hal ini sudah datang lebih dulu dari Rasulullah SAW, dan beliau ingin agar kita bisa meneladani hal tersebut karena bisa menjadi jalan/wasilah bagi terbentuknya karakter anak melalui nasihat-nasihat yang kita berikan ketika sedang bermain di luar bersamanya.

    Waktu kedua yang dianjurkan adalah saat sedang makan. Hal ini karena saat sedang makan, seorang anak selalu tampil apa adanya, sehingga terkadang ia melakukan hal yang tidak sesuai dengan adab. Orang tua diharapkan agar makan bersama-sama dengan anak guna meluruskan hal tersebut. Bahkan para ahli pendidikan dari barat pun setuju mengenai hal ini. Waktu makan bersama orang tua adalah salah satu kegiatan yang dapat mengikat bonding antara anak dan orang tua, karena komunikasi dapat terjalin bersama dan anak mampu merekam hal apapun yang disampaikan oleh orang tua. Lagi-lagi, Rasulullah SAW telah membuktikan dan mencontohkannya terlebih dahulu, Subhanallah.

    Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah Ra., ia berkata: Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rsulullah SAW. Tanganku bergerak ke sana kemari di nampan makanan. Rasulullah SAW bersabda kepadaku. “Hai anak kecil, ucapkanlah basmallah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.” Sejak itu, begitulah caraku makan.

    Waktu yang ketiga adalah saat anak sakit. Dijelaskan bahwa kondisi sakit dapat melunakkan hati orang-orang dewasa yang keras, apalagi anak kecil. Terdapat dua keutamaan yang terkumpul padanya untuk meluruskan kesalahan dan perilakunya bahkan keyakinannya, yakni keutamaan fitrah anak dan keutamaan lunaknya hati ketika sakit.

    Di samping memberikan nasihat dan pengarahan, Rasulullah SAW juga mencontohkan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam pembentukan dan pendidikan karakter anak, antara lain bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak; menunaikan hak anak; mendo’akan hanya kebaikan untuk mereka dan melarang do’a buruk atas mereka; membelikan anak mainan; membantu anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaatan; serta tidak suka marah dan mencela. Hal-hal tersebut sungguh menjadi catatan dan bahan refleksi bagi saya pribadi, agar dapat lebih mengamalkan dan menunaikan tuntunan Rasulullah SAW dalam mendidik anak.

    Hal selanjutnya yang dapat kita lakukan dalam mendidik anak sesuai tuntunan Rasulullah SAW adalah mempengaruhi akal anak. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menceritakan hikayat atau kisah-kisah. Hikayat atau kisah-kisah memainkan peranan penting dalam menarik perhatian anak dan membangun pola pikirnya. Kisah menempati peringkat pertama sebagai landasan asasi metode pemikiran yang memberikan dampak positif pada akal anak, karena sangat disenangi. Jadi tidak salah ketika dulu kakek nenek kita menceritakan dongeng sebagai pengantar menjelang tidur, karena dari situ kita jadi banyak belajar, MasyaAllah. Kisah-kisah seperti apa yang dimaksud? Tentunya kisah-kisah kenabian yang menjadi pedoman penting tersebut, terutama bagi umat Muslim.

    “Kisah-kisah para ulama dan orang-orang shaleh adalah sarana terbaik untuk menanamkan keutamaan dalam jiwa. Dapat mendorong diri untuk kuat memikul beban perjuangan meraih tujuan mulia. Kisah-kisah tersebut dapat menuntun untuk meneladani para pahlawan yang berkomitmen tinggi dan rela berkorban agar sampai pada tingkatan tertinggi dan derajat termulia.”

    Langkah selanjutnya untuk mempengaruhi akal anak adalah dengan berbicara sesuai kadar anak. Dengan demikian, anak akan lebih mudah mengerti dengan apa yang kita ucapkan, dan kita dapat menjadi teman yang menyenangkan baginya. Selain itu, metode tanya jawab juga dapat merangsang pertumbuhan akal anak dan meluaskan wawasannya, serta menambah semangatnya untuk menyingkap berbagai inti permasalahan dan esensi dari berbagi kejadian sehari-hari.

    Melatih anak dengan beraktivitas juga dapat menghasilkan pengetahuan baginya. Rasulullah SAW pernah melihat seorang anak menguliti seekor kambing. Namun dia tidak mampu melakukannya dengan baik. Maka, Rasulullah SAW menyingsingkan lengan bajunya dan mulai menguliti kambing tersebut di hadapan sang anak. Si anak memperhatikan dengan seksama cara-cara yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut. Akalnya berputar merekam apa yang dilihatnya dan pikirannya terfokus pada pekajaran yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Children see, children do. Begitu banyak teori barat dengan berbagai metode kurikulumnya menjadi panduan bagi aktivitas bermain bersama anak. Sementara Rasulullah SAW sudah jauh lebih dulu mempraktekannya. Semoga kita senantiasa dapat memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita.

    Hal terakhir yang dapat mempengaruhi akal anak adalah dengan mengarahkan anak untuk meneladani Rasulullah. Diriwayatkan oleh At-Thabrani dan Ibnu an-Najjar dari Ali karamallahu wajhahu: “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian tiga perkara: cinta kepada Nabi kalian, cinta kepada keluarga beliau dan membaca Al-Qur’an.” Keterikatan seorang anak kepada Rasulullah SAW membuatnya menjadi manusia yang sempurna. Karena pikirannya menjadi terbuka untuk mempelajari jalan hidup pemimpin para rasul, pemimpin seluruh umat manusia dan kekasih Allah. Akalnya akan diterangi oleh cahaya keimanan. Dengan memahami sejarah yang mulia ini, dia akan mengangkat kepalanya dengan bangga sebagai pengikut setia Rasulullah SAW.

    Setelah mengetahui cara mempengaruhi akal anak, cara selanjutnya adalah dengan mempengaruhi jiwa anak. Bagaiamana caranya?

    “Sesungguhnya jiwa dapat tumbuh dengan pendidikan yang baik sebagaimana tubuh dapat tumbuh dengan gizi yang baik. Pertumbuhan tubuh memiliki batas yang jelas dan tidak akan terlewati. Apabila sudah sampai puncak, akan kembali mundur ke belakang. Sementara pertumbuhan jiwa berkaitan erat dengan kehidupan seseorang. Tidak akan berhenti sampai berhentinya napas atau meninggalkan madrasah alam nan luas ini.”

    Dikutip dari Asy-Syaikh Muhammad al-Khidr Husain rahimahullah dalam buku Prophetic Parenting.

    Banyak sekali point-point yang dibahas dalam buku ini berkaitan dengan mempengaruhi jiwa anak. Apa saja diantaranya?

    1. Berteman dengan anak. Pertemanan memainkan peranan penting dalam memberikan pengaruh pada jiwa anak. Seseorang adalah cerminan dari temannya. Lebih menyerupai penyandingan antara dua orang yang saling berteman, karena mereka saling belajar satu sama lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita para orang tua untuk memilihkan lingkungan pertemanan yang baik bagi anak-anak kita.
    2. Menanamkan kegembiraan pada anak. Kegembiraan dapat memberikan dampak positif pada jiwa anak dan akan melahirkan kebebasan dan kehidupan bagi jiwa, sebagaimana juga menjadikannya siap untuk menerima perintah, anjuran, dan pengarahan. Jadi tidak heran jika anak yang hati dan jiwanya senang, ia akan lebih mudah menerima nasihat dari orang tuanya.
    3. Memotivasi dan mendukung potensi anak. Di antara dukungan yang baik adalah mendukung anak untuk melakukan perbuatan baik, seperti membeli buku agar si anak dapat memiliki perpustakaan pribadi yang terus berkembang seiring dengan pertumbuhannya. Hendaknya orang tua dan para guru dalam memberikan motivasi kepada anak-anak memakai slogan, “Ucapkanlah wahai Anakku, jangan merasa rendah diri.”
    4. Memberikan pujian dan sanjungan. Pujian dan sanjungan dapat menggerakkan perasaan anak, sehingga dia dapat segera memperbaiki perilaku dan perbuatannya. Tentunya hal ini tetap harus dilakukan sesuai kadarnya, tidak boleh dilakukan secara berlebihan.
    5. Bermain bersama anak. Bermain bersama anak dapat membantunya untuk mengungkapkan apa yang dipendamnya. DIceritakan di sini bagaimana Rasulullah SAW bermain bersama Hasan dan Husain; bagaimana kedua anak itu menaiki punggung beliau dan berjalan bersama beliau. Demikian juga beliau bersama anak-anak Abbas. Semua itu menunjukkan pentingnya kedua orangtua bermain bersama anak mereka.
    6. Menumbuhkan rasa percaya diri anak dengan cara: menguatkan keinginan anak (membiasakannya menyimpan rahasia dan membiasankannya berpuasa); membangun kepercayaan sosial; membangun kepercayaan ilmiah; dan membangun kepercayaan finansial.
    7. Memberikan panggilan yang baik. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa hadist, beliau memanggil dan menyapa anak-anak dengan panggilan: “Hai anak kecil…”; “Wahai anakku…”; “Wahai putra saudaraku…”; “Wahai Abu Umair…”
    8. Mengabulkan keinginan dan mengarahkan bakat anak.
    9. Melakukan pengulangan perintah. Sama halnya dengan manusia lainnya, anak kecil juga bisa lupa. Allah SWT memberinya kelebihan di antara makhluk hidup lainnya berupa masa kanak-kanak yang panjang tidak lain adalah untuk persiapan memikul kewajiban terhadap Allah SWT. Hal yang dicontohkan dalam buku ini adalah perintah sholat. Tidak ada dosa bagi anak-anak ketika tidak melakukan sholat selama belum sampai pada masa akil baligh. Karenanya, orang tua wajib mempersiapkan anak-anak agar kelak ia siap melaksanakan kewajiban tersebut menurut kesadarannya.
    10. Bertahap dalam menanamkan pendidikan. Tahap pertama: dimulai dari pertama kali si anak dapat berjalan dan dapat berbicara sampai usia tujuh tahun, yaitu tahapan menyaksikan. Ketika si anak menyaksikan kedua orang tuanya megerjakan shalat, dia pun menirunya. Apabila kedua orang tua melatihnya untuk shalat, maka itu adalah kebaikan ganda. Tahap kedua: tahap perintah, dari usia tujuh tahun hingga sepuluh tahun, ketika kedua orang tua memerintahkan si anak untuk mengerjakan shalat. Tahap ketiga: tahap hukuman, dari usia sepuluh tahun sampai seterusnya. Dalam tahap ini orang tua memukul anaknya apabila tidak mengerjakan shalat.
    11. Memberikan janji dan ancaman. Hal yang dicontohkan dalam buku ini adalah perihal berbakti kepada orang tua. Jelas dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa berbakti kepada orang tua adalah wajib bagi anak. Adapun bentuk bakti seperti apa yang baik, adalah hak Allah untuk menilai-Nya. Karena seringkali ekspektasi orang tua dan anak berbenturan mengenai hal ini, sehingga seringkali orang tua dengan mudahnya mengeluarkan ancaman dan memberi cap “anak durhaka” ketika tidak memenuhi eskpetasinya. Semoga kita sebagai orang tua dapat bersikap bijak bagi anak-anak kita. Wallahu alam bisshowab.

Design a site like this with WordPress.com
Get started