• Source picture from Google

    Beberapa minggu terakhir ini saya sedang membaca buku Prophetic Parenting yang ditulis oleh Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dengan penerbit Pro U Media. Memang baru bagian pertama yang saya baca, karena bukunya tebal sekali. Tapi dari bagian pertama pun saya sudah dibuat jatuh hati oleh isi bukunya.

    Pertama, karena buku ini ditulis dengan sangat sistematis dan disusun secara ilmiah (dalam setiap kutipan selalu dicantumkan sumber rujukan) sehingga memudahkan pembaca untuk memahami isinya secara keseluruhan bahkan dari bab pertama. Dilengkapi dengan hadis-hadis pendukung , sehingga konsep parenting yang dituangkan dalam buku ini benar-benar berangkat dari anjuran Rasulullah SAW dan ajaran Islam. Buku ini diterjemahkan dari kitab yang berjudul Manhaj Tarbiyah Nabawiyah lith Thifl, yang mana artinya adalah metode pembelajaran dalam membentuk kepribadian anak dilakukan sedikit demi sedikit sampai mencapai tingkatan lengkap dan sempurna. Proses penulisannya sendiri pun menghabiskan waktu hingga 10 tahun, bukti keseriusan penulis dalam penyusunan buku ini.

    Bagi umat Muslim khususnya, buku ini sangat baik dibaca sebagai pegangan bagi para orang tua untuk mambangun pondasi penting bagi visi dan misi pendidikan di dalam keluarga. Sebelum kita mendalami bermacam-macam ilmu parenting dan dibuat bingung dengan banyaknya konsep dan teori parenting dari barat, menurut saya pribadi alangkah baiknya bagi umat Muslim jika kita berangkat dari konsep pendidikan yang memang dianjurkan oleh Islam sendiri. Karena itu, saya mencoba untuk merangkum isi dari buku tersebut sebagai pengingat bagi saya pribadi khususnya. Postingan ini akan saya bagi lima, sesuai dengan sistematika yang tersusun dalam bukunya.

    Bagian pertama buku ini terdiri dari dua bab, yaitu Nasihat Cinta untuk Para Calon Orangtua dan Metode Mendidik Anak hingga Usia Dua Tahun.

    Bab Nasihat Cinta untuk Para Calon Orangtua membahas tentang betapa penting dan krusialnya mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang baik. Proses mempersiapkan diri ini bukan dimulai sejak dilakukannya ijab sah atau setelah menikah, melainkan dari sebelum menikah. Salah satunya adalah dengan memilih calon pasangan yang baik. Dijelaskan pula adab-adab yang wajib dilakukan sebelum berhubungan bagi suami istri serta amalan-amalan utama yang harus dilakukan oleh kedua orangtua (terutama selama proses ibu mengandung) guna memperoleh keturunan yang sholeh dan sholehah.

    Sebelum masuk lebih jauh ke pembahasan tersebut, dijelaskan terlebih dahulu tentang keutamaan untuk mengajarkan tauhid di antara banyaknya tanggung jawab untuk mendidik anak. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah Ra: Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orangtuanya lah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” Dari hadis tersebut dijelaskan bahwa ayah dan ibu memiliki unsur yang sama penting dalam pendidikan anak, terutama dalam penanaman tauhid. Karena tujuan utama dari pendidikan adalah bahwa si anak harus diliputi oleh segala sesuatu yang dapat menumbuhkan ruh keagamaan dan kebaikan dalam dirinya. Dijelaskan pula bahwa pendidikan ini adalah hak anak atas kedua orangtuanya, bukan pemberian maupun hadiah, yang dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW : “Sebagaimana bapakmu memiliki hak atasmu, maka demikian juga anakmu memiliki hak atasmu.”

    Menariknya, pembahasan selanjutnya di dalam buku ini lebih dititikberatkan pada peran wanita sebagai istri dan ibu yang merupakan elemen utama dalam amalan ini. Dijelaskan bahwa di antara hak suami adalah mencari tahu sampai sejauh mana wawasan istrinya, sebab wawasan ini akan membantu sang istri untuk mengatur rumah tangga dan memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Dan bagi wanita dipersilakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan apa saja dengan tata cara yang sesuai dengan kesempurnaannya sebagai seorang wanita.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, sungguh jelas bahwa dalam Islam sendiri mewajibkan wanita untuk berwawasan luas tidak lain adalah untuk membentuk generasi penerus yang berkualitas, baik secara IMTAQ maupun IPTEK. Dan di dalam hal ini juga menjadi kewajiban sang suami untuk mendidik dan mendukung istrinya. Di dalam bab ini dijelaskan tentang keutamaan wanita untuk taat terhadap suami (selama tidak menyalahi syariat tentunya) dan mendidik anak-anaknya sama pahalanya dengan berperang di jalan Allah dan shalat Jumat di mesjid-mesjid. Subhanallah.

    Dari kutipan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa sedemikian rinci Islam mengatur keseimbangan peran antara laki-laki dan dan wanita dengan jaminan surga sebagai ganjarannya. Peran laki-laki dan wanita dalam Islam adalah sejajar dan saling beriringan, sesuai dengan porsinya masing-masing dan tidak ada yang saling tumpang tindih. Hal ini menjadi bukti nyata, bahwa jauh sebelum paham-paham feminisme menyebar dan berkembang memasuki nalar manusia, Islam telah terlebih dahulu mengatur dan menjamin kedudukan wanita di sisi Allah tanpa harus menyalahi fitrahnya.

    Memasuki bab dua, dijelaskan tentang Metode Mendidik Anak hingga Usia Dua Tahun. Di dalam bab dua ini, dipaparkan tentang amalan-amalan yang harus dilakukan oleh orangtua dimulai dari proses kelahiran hingga hak-hak yang harus diberikan sampai anak berusia dua tahun.

    Dijelaskan bahwa pada saat menghadapi proses kelahiran seorang wanita sangat perlu untuk menghadap kepada Allah SWT dengan memanjatkan do’a dengan segala kejujuran, ketulusan, dan taubat yang sebenarnya. Maka, akan dengan cepat Allah SWT memudahkan proses kelahirannya dan memberinya kekuatan untuk menanggung segala rasa sakit dan pedih dalam proses tersebut.

    Selanjutnya adalah penjelasan tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mendidik bayi pada hari pertama kelahiran, diantaranya mengeluarkan zakat fitrah, berhak menerima harta waris, azan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri, berdo’a dan bersyukur kepada Allah, menyuapi bayi dengan kurma, dan melakukan pemberitahuan dan berhak atas ucapan selamat atas kelahiran si bayi. Hendaknya tamu yang datang memberi ucapan selamat seperti berikut ini: “Semoga engkau diberkati pada pemberian ini. Engkau bersyukur kepada Dzat yang Memberi. Semoga engkau mendapatkan baktinya, dan semoga dia panjang umur.”

    Lalu pada hari ketujuh kelahiran, orangtua dianjurkan untuk memberikan nama bayi (dengan nama baik tentunya), mencukur rambut dan menimbangnya lalu bersedekah dengan perak seberat timbangan tersebut (beratnya mencapai satu dirham atau tidak sampai satu dirham), serta melaksanakan aqiqah dan khitan. Adapun penentuan hari ketujuh untuk melaksanakan aqiqah didasarkan pada pertimbangan bahwa pada saat proses kelahiran, hal pertama kali yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga adalah mengurus ibu dan bayinya. Sehingga mereka tidak boleh dibebani dengan sesuatu yang justru menambah kesibukan mereka. Subhanallah.

    Pendidikan bayi yang selanjutnya adalah menyusui dan menyapihnya. Begitu jelas Islam menyampaikan hal ini, hingga tercantum dalam ayat Al-Qur’an: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,” (Q.S. Al-Baqarah [2]:233).

    DI dalam bab ini juga disertakan beberapa riwayat yang menceritakan tentang betapa pentingnya aktivitas menyusui bagi seorang ibu, hingga ketika ada seorang wanita pezina datang menghadap Rasulullah SAW dalam keadaan hamil, beliau menangguhkan hukuman wanita tersebut sampai wanita tersebut melahirkan. Lalu ketika wanita tersebut datang lagi menemui beliau setelah melahirkan, Rasulullah pun kembali menangguhkan hukuman bagi wanita tersebut hingga selesai masa menyusui bayinya. Hal ini menunjukkan begitu utamanya aktivitas menyusui bayi bagi seorang ibu dalam hukum Islam, hingga hukuman bagi seorang pezina pun ditangguhkan.

    Jika kita bandingkan dengan keadaan sekarang, harusnya bagi seseorang yang mengaku mengikuti ajaran Islam dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah, tidak ada lagi konflik ataupun perdebatan antara lingkungan sekitar yang menyarankan pemberian susu formula dari awal proses kelahiran dengan si ibu yang ingin menyusui anaknya dengan ASI. Dewasa ini kita sering mendengar kasus, dimana seorang ibu merasa depresi setelah melahirkan, karena tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya sendiri untuk menyusui bayinya karena lingkungannya lebih percaya pada kualitas susu formula dibandingkan ASI. Padahal di dalam Islam sendiri begitu mengutamakan aktivitas menyusui karena manfaatnya yang begitu besar baik bagi ibu maupun bayi. Hendaknya seorang ibu yang ingin menyusui anaknya dengan ASI wajib didukung oleh keluarga dan lingkungan sekitar, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW (kecuali memang ada hal yang memberatkan, misalnya si ibu mempunyai penyakit tertentu yang dapat merusak ASI dan membahayakan bayinya jika meminum ASI tersebut). Wallahu alam bisshowab.

    *note : kutipan hadis yang dituliskan dalam postingan ini hanya saya kutip sebagian untuk menampilkan benang merahnya. Kutipan hadis berikut penjelasannya dapat dibaca secara lengkap pada bukunya.

  • Bermain terkonsep : Sorting colors
    Free play : Ikut serta memasukkan daging yang sudah saya timbang ke dalam kantong plastik

    Sebenarnya saya ingin sekali membahas stimulasi bermain ini dengan lebih detail. Tapi, berhubung saya belum sempat riset dan membaca referensi, jadi biarlah saya bahas berdasarkan pengalaman pribadi terlebih dahulu.

    Free play atau bermain bebas identik dengan stimulasi bermain yang tidak direncanakan. Maksud tidak direncanakan di sini artinya, dalam menjalankan stimulasi bermain anak berperan sebagai inisiator. Orang tua juga tidak memberikan banyak intervensi di dalamnya, tetapi hanya jadi follower si anak.

    Misalnya, anak sedang bermain peran sendiri seperti berpura-pura mengobrol di telepon, lalu orang tua masuk ke dalam percakapan si anak, menanggapi obrolan si anak melalui aktivitas role play yang diinisisasi oleh sang anak. Atau bisa juga dengan membiarkan si anak turut aktif dalam kegiatan yang sedang dilakukan orang tua, karena anak sedang dalam fase meniru. Misalnya, orang tua sedang menyapu lantai, si anak juga ikut menyapu lantai dengan menggunakan sapu mainan miliknya. Contoh lain, ketika orang tua sedang asyik memasak, si anak asyik sendiri mendorong-dorong galon.

    Sementara dalam bermain terkonsep/ terencana, orang tua yang berperan untuk menginiasiasi kegiatan bermain anak. Di sini orang tua yang berperan sebagai inisiator, yaitu dengan menyiapkan materi bermain, lalu si anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan bermain yang diinisiasi oleh orang tua.

    Mana yang lebih baik diantara keduanya? Jawaban saya, keduanya sama baik selama anak dan orang tua sama-sama senang menjalaninya.

    Mana yang lebih nyaman untuk dijalani? Tentu saja, tergantung situasi dan kondisi keluarga masing-masing.

    Bagi saya pribadi, bermain terkonsep bisa sangat menyenangkan untuk dilakukan, karena ketika saya menyiapkan materi bermain untuk Naura, rasanya bisa lebih engage untuk bermain bersama. Tetapi dengan catatan, energi saya sedang penuh dan mood saya sedang baik. Ada kalanya ketika energi saya sedang tidak penuh dan mood sedang jelek, bermain terkonsep malah menjadi boomerang bagi saya dan Naura.

    Misalnya ketika ternyata yang dikerjakan si anak tidak memenuhi ekspektasi dan si anak terlihat tidak bersemangat saya bisa jadi emosi, atau tanpa saya sadari malah terlalu banyak menberikan intervensi ke dalam proses bermain anak. Padahal kan sebenarnya hak anak juga mau bermain dengan cara apa, dan tujuan utamanya bukan untuk memenuhi ekspektasi orang tua, tapi untuk menginisiasi kegiatan bermain agar lebih variatif dan supaya anak tidak bosan.

    Sampai saat ini, saya pribadi masih lebih nyaman menerapkan free play pada Naura. Pertama, karena tidak ada goal spesifik yang ingin dituju, dan yang kedua kegiatan bisa dilakukan beriringan dengan tugas-tugas domestik yang saya kerjakan namun stimulasi tetap tercapai.

    Kekurangannya, sering kali saya merasa kalau Naura ketinggalan dari anak-anak lain dari segi kemampuan kognitifnya karena saya belum pernah secara serius dan fokus mengajarinya hal-hal yang cenderung akademik, seperti misalnya belajar huruf, belajar berhitung dan menulis. Dan dari sisi anak, Naura seringkali terlihat bosan karena saya terlalu asyik mengerjakan tugas-tugas domestik, sementara ia juga butuh teman bermain.

    Yang jelas, apapun jenis permainan yang dilakukan, entah itu free play atau bermain terkonsep, anak haruslah berperan sebagai subjek. Orang tua sebaiknya tidak terlalu banyak memberikan intervensi agar anak tidak takut salah dan tidak takut mencoba. Sejatinya kegiatan bermain yang diinisiasi oleh orang tua bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang positif untuk proses belajar anak dan memelihara rasa ingin tahu mereka, bukan untuk menuntaskan keinginan orang tua agar si anak cepat bisa.

    Proses stimulasi dapat berjalan dengan optimal melalui free play maupun bermain terkonsep, selama orang tua hadir secara utuh (mindfull) dan engage dengan anak saat kegiatan bermain sedang berlangsung.

  • Hallo.. Welcome back!

    Rasanya senang sekali ketika akhirnya bisa membuka dan menulis lagi di blog. Meskipun setelah sekian lama rasanya begitu sulit kembali untuk memulai, tapi pada akhirnya saya memilih untuk tetap melanjutkan hobi lama ini.

    Begitu banyak hal yang terjadi selama 2 tahun terakhir. Postingan saya terakhir adalah pada tanggal 21 Oktober 2019, saat Naura berusia 6 bulan. Dan sekarang baru menulis lagi pada tanggal 29 Agustus 2021, saat Naura menjelang 2,5 tahun. Benar-benar lama sekali ya. Seandainya saya adalah seorang penulis profesional atau novelist terkenal, mungkin dengan hiatus selama itu seharusnya saya sudah menelurkan karya baru.

    Tapi meskipun saya bukan keduanya, nyatanya banyak juga yang terjadi dalam hidup saya selama 2 tahun terkahir ini. Jadi di postingan pertama ini, marilah kita sedikit flashback tentang hal-hal apa saja yang sudah saya lakukan sejauh ini. Sembari menjadi bahan evaluasi bagi saya di tahun ini, sudah sejauh apa saya berjalan dan seberapa dekat saya dengan tujuan dan mimpi-mimpi saya.

    Pertama, tentunya kita tidak akan lupa bahwa akhir tahun 2019 adalah awal kemunculan virus Corona. Covid-19 varian alfa yang datang pertama kali dari Kota Wuhan di China, lalu menyebar ke seluruh penjuru bumi dan berujung menjadi pandemi. Sampai sekarang, virus tersebut sudah berkembang menjadi varian delta dan menelan banyak korban jiwa. Di Indonesia sendiri, penanganan pandemi begitu lambat, sehingga hal-hal yang seharusnya dapat dicegah di awal tidak bisa ditangani dengan baik dan pada akhirnya kita terpaksa untuk dapat hidup berdampingan dengan virus ini. Sampai kapan pandemi ini berakhir? Waalhualam, hanya Allah yang tahu pasti 🙂

    Dan seperti yang dirasakan oleh kebanyakan orang, saya pun sempat merasa amat frustasi. Apalagi waktu itu masih berat-berat2nya saya berjuang menjalani peran sebagai ibu baru. Drama GTM dan BB anak yang seret menjadi pemicu utama saya stress. Apalagi ditambah dengan adanya pandemi. Waktu-waktu di mana saya seharusnya bisa melakukan pelarian sejenak dari rutinitas sebagai seorang ibu mau tidak mau tergantikan dengan aktivitas “di rumah saja”. Dan siapa yang menyangka, ternyata kita semua pada akhirnya lebih banyak melakukan seluruh aktivitas dari rumah hingga saat ini. Bisa dibilang rumah menjadi pusat segala aktivitas saat ini, bukan lagi pasar, mall, ataupun sekolah. Mungkin hanya satu area publik yang menajdi pusat aktivitas masyarakat saat ini, yaitu rumah sakit 🙂

    Kedua, di tahun 2020 saya bergabung dengan beberapa komunitas yang akhirnya mengubah pandangan dan perjalanan saya sebagai ibu. Yang pertama adalah sebuah komunitas Homeschooling di Indonesia, Rumah Inspirasi. Saya mengikuti coaching homeschooling bersama Rumah Inspirai selama setahun penuh. Alasan pertama saya untuk bergabung dulu tentunya adalah untuk belajar parenting lebih dalam, sekaligus juga untuk istirahat dari teori-teori parenting yang fokusnya menurut saya terlalu teknis, sehingga rasa-rasanya teori-teori tersebut terlalu ideal dan sempurna untuk bisa saya jalankan.

    Melalui Rumah Inspirasi, saya belajar untuk melemaskan otot-otat dan urat leher saya. Belajar bahwa menjadi orang tua itu adalah untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Bahwa anak itu adalah subjek, bukan objek untuk menampung segala ego dan ambisi orang tua. Filosofi yang mereka tanamkan tentang anak adalah bahwa mereka diibaratkan sebagai bibit tanaman yang harus kita rawat sesuai dengan fitrah dan keunikannya masing-masing. Jadi, memang di Rumah Inspirasi ini saya mendapat banyak sekali insight tentang pendidikan. Aktivitas parenting dikembalikan kepada prinsip, esensi, dan value. Bukan dititikberatkan kepada teori-teori yang harus dilakukan oleh orang tua untuk anak mereka.

    Website Rumah Inspirasi tempat saya belajar Homeschooling

    Komunitas kedua adalah Supporter Baca. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan dan fokus kegiatannya adalah read aloud atau membaca nyaring. Di komunitas ini kami didorong untuk terbiasa membacakan buku kepada anak setiap hari. Tentunya dengan teknik yang benar, agar si anak dapat menyerap dan memahami informasi yang dibacakan. Tujuan besarnya untuk menanamkan literasi pada anak sejak dini sehingga harapannya literasi di Indonesia dapat meningkat. Saya sendiri sangat enjoy mengikuti kegiatan ini, dan hasil positifnya, saat ini Naura dan saya punya rutinitas dan waktu khusus untuk membaca buku di malam hari sebelum tidur setiap hari.

    Komunitas ketiga adalah Rivelian Books. Well, sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai komunitas sih ya. Karena Rivelian Book ini adalah nama personal brand importir buku-buku anak. Tujuan saya bergabung pun tak lain adalah untuk membeli buku-buku anak import yang tidak mudah didapatkan di Indonesia (dengan harga terjangkau). Tapi siapa sangka, bergabung dengan grup tersebut ternyata mampu membawa kesenangan tersendiri bagi saya, karena mendapat banyak insight juga tentang berbagai metode pendidikan. Terlebih lagi banyak diantara para customernya adalah guru dan aktivis homeschooling juga. Dan tentunya, mendapat kenalan-kenalan yang sefrekuensi karena sama-sama suka buku, dan memiliki tekad yang sama-sama kuat untuk menghadirkan kualitas buku-buku anak terbaik di rumah.

    Bersamaan dengan itu, saya juga mempunyai hobi baru, yaitu menulis buku anak. Masih belum berani bermimpi jauh untuk membesarkan hobi ini untuk dikerjakan secara profesional, walaupun pernah juga saya berangan-angan untuk membangun usaha penerbitan dan percetakan sendiri suatu saat nanti :). Niat saya hanya sebatas menyediakan sumber bacaan gratis yang bisa dicetak sendiri untuk dibacakan kepada anak-anak di manapun berada. Harapannya, semoga niat saya ini kelak bisa menjadi amal jariyah bagi saya.

    Beberapa cerita anak yang saya buat sendiri dan diunggah di Instagram

    Cerita selanjutnya, adalah akhirnya kami memutuskan untuk membeli sebuah rumah tinggal. Alhamdulillah ala kulli haal.. Yah, meskipun dengan cara KPR, tapi kami bertekad untuk bisa melunasi pembelian rumah kurang dari tenor yang ditentukan. Tentunya ini menjadi langkah besar bagi kami setelah sebelumnya merasa nyaman hanya dengan hanya mengontrak rumah. Sempat terjadi kebimbangan juga apakah sebaiknya menempati rumah orang tua yang memang sudah kosong sejak lama di Ciamis, atau membeli rumah baru di tempat suami bekerja. Dan akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memilih untuk membeli rumah baru saja meskipun harganya lebih mahal. Baru-baru ini juga menemukan alasan yang menguatkan kami untuk membeli rumah baru, diantaranya karena secara tiba-tiba kami diminta pindah dari rumah kontrakan yang saat ini kami tinggali. Biarlah ini menjadi cerita selanjutnya untuk saya tulis di blog 🙂

    Terakhir, hal baru yang saya pelajari di pertengahan tahun ini adalah, saya memutuskan untuk “sedikit” belajar bisnis. Sesuatu yang menjadi momok bagi saya pribadi, karena bagi saya belajar bisnis itu susah. Selain karena tidak punya minat ke arah sana, juga rasanya memang tidak menyenangkan bagi saya untuk mempelajarinya. Namun karena satu hal dan lainnya, akhirnya saya tertarik juga untuk mencoba menjalankan. Bukan karena teriming-imingi oleh potensi profitnya, tapi karena melihat value, kualitas produk, dan lingkungan yang positif di dalamnya. Plus, tidak terikat waktu dan tidak ada tekanan dari siapapun. Jadi memang murni dari kesadaran sendiri. Saya pun masih belum tahu akan seserius apa di bidang ini, yang jelas sampai saat ini saya cukup enjoy dengan sistem pembelajran yang ada disana.

    Last but not least, adalah keberanian saya untuk melakukan “pilah sampah” di rumah. Kenapa disebut sebagai keberanian besar? Karena aslinya saya ini malas sekali dan tidak suka dengan sesuatu yang ribet. Niat order makanan pun tujuannya biar saya tidak perlu mencuci piring bekas makan. Tapi dengan melakukan pilah sampah, plastik-plastik bekas ciki pun harus dicuci bersih dan dikumpulkan. Jadi bisa dibayangkan betapa usaha untuk mendongkrak kemalasan ini tidak mudah bagi saya. Mungkin buat orang lain ini hal yang lumrah dan biasa saja, tapi bagi saya ini adalah prestasi tersendiri yang patut diapresiasi. Orang bilang tujuan besarnya untuk menyelamatkan dan menghujaukan bumi kembali. Bagi saya motivasinya krena saya ingin Naura melihat dan mencontoh hal-hal baik dari ibunya, contohnya aktivitas untuk turut menjaga lingkungan seperti ini 🙂

    Tentunya masih sangat banyak yang ingin saya lakukan. Saya tidak akan berhenti hanya pada hal-hal di atas saja. Masih ada mimpi untuk melanjutkan sekolah yang harus dikejar, masih ada pelajaran bahasa isyarat yang juga menarik untuk saya pelajari. Mungkin sebagian besar orang (termasuk suami saya sendiri) melihat bahwa saya adalah orang yang memang suka belajar, tapi guru terbesar saya saat ini tentunya adalah anak saya sendiri. Darinya, saya jadi ingin belajar banyak hal, ingin menjadi lebih bisa diandalkan pada setiap kesempatan. Sebagaimana dirinya yang sedang terus belajar dan bertumbuh, saya juga ingin Naura melihat saya sebagai sosok ibu yang terus belajar dan bertumbuh tanpa terbatas pada usia 🙂

    Masih ada sisa beberapa bulan menuju pergantian tahun. Semoga hal-hal baik terus tumbuh.

Design a site like this with WordPress.com
Get started